Sahat M Sinaga Launching Buku “Dari Loyang Jadi Emas” -->

Translate

MON

Ekles Clinik

REKTOR

LOGO PPWI

Sahat M Sinaga Launching Buku “Dari Loyang Jadi Emas”

 


Detikaktual.Com, Jakarta - Pengamat sekaligus tokoh industri kelapa sawit, Sahat M. Sinaga, menyoroti sejumlah persoalan mendasar dalam pengelolaan sawit nasional, mulai dari teknologi pengolahan, emisi karbon, hingga kelembagaan petani. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela peluncuran buku “Dari Loyang Jadi Emas”.


Sahat menilai, proses industri sawit saat ini masih menyimpan banyak inefisiensi, terutama dari sisi teknologi pengolahan yang berdampak pada tingginya emisi karbon. Ia menyebutkan bahwa jumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia telah mencapai angka signifikan. “Teknologi sterilisasi di kebun sekarang sudah berjumlah kira-kira 1340 unit PKS. emisi karbonnya sekitar 60 juta ton Co2 equivalen per tahun,” ujarnya di sela-sela peluncuran bukunya pada hari Rabu (15/04/2025) bertempat di Westin Hotel, Jakarta. 


Dalam buku tersebut, Sahat banyak bercerita tentang masa kecilnya yang penuh perjuangan. Lahir dari keluarga petani di Samosir, ia sudah terbiasa membantu orang tua sejak kecil.


“Ayah saya petani, ibu yang menjual hasilnya ke pasar. Saya sudah terbiasa kerja keras sejak kecil sebelum berangkat sekolah,” kenangnya.


Semangat untuk mengenyam pendidikan menjadi titik balik hidupnya. Ia berhasil melanjutkan studi di Teknik Kimia ITB dan lulus pada 1973. Pengalaman ini, kata dia, menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya.


Setelah lulus, Sahat memulai karier di perusahaan multinasional Unilever. 


Di sana, ia mendapatkan pelajaran berharga yang membentuk karakter kerja keras dan disiplin.


“Salah satu bos saya mengajarkan untuk mencoret kata ‘no’ dan ‘impossible’. Semua harus bisa dikerjakan,” ungkapnya.


Pengalaman tersebut membuat Sahat dikenal sebagai sosok yang berpikir out of the box. Salah satu titik penting dalam perjalanan inovasinya terjadi saat bertemu rekan dari Afrika sekitar 2016–2017 di Jakarta.


Kala itu, ia mendapat kritik bahwa minyak sawit Indonesia dianggap tidak memiliki tekstur. Kritik tersebut justru menjadi pemicu lahirnya inovasi baru dalam pengolahan sawit.


Sahat kemudian mengembangkan teknologi pengolahan sawit dengan metode dry process, yang berbeda dari metode konvensional wet process. 


Inovasi ini melahirkan produk DPMO (Degummed Palm Mesocarp Oil), yang diklaim memiliki kandungan fitonutrien tinggi dan kaya vitamin.


Tak hanya itu, teknologi ini juga lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi karbon hingga sekitar 78 persen serta tidak menghasilkan limbah cair.


Menurut Sahat, judul buku Dari Loyang Menjadi Emas mencerminkan semangat transformasi sawit Indonesia agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.


“Saya ingin sawit Indonesia tidak hanya jadi bahan mentah, tapi punya nilai tambah dan bisa menyejahterakan petani,” katanya.


Ia menegaskan, latar belakangnya sebagai anak petani membuatnya selalu menempatkan kesejahteraan petani sebagai prioritas utama dalam setiap inovasi yang dikembangkan.


Melalui buku ini, Sahat berharap bisa menginspirasi generasi muda, khususnya di sektor pertanian dan industri, untuk terus berinovasi dan tidak takut menghadapi tantangan.


“Silakan dibaca. Ini bukan hanya cerita saya, tapi juga perjalanan sawit Indonesia,” pungkasnya


Buku setebal sekitar 250 halaman ini mengupas perjalanan hidup Sahat, mulai dari masa kecil di keluarga petani hingga menjadi salah satu tokoh penting di industri sawit nasional


Hadir Menteri Bapenas ,perwakilan Kementan ,Kemenprin , rekan-rekan dari Institut Teknologi Bandung, pelaku industri sawit, serta Persatuan Insinyur Indonesia (PII).


(DVD)